Satu Hari Kemudian… Roma vs Plzeň

Pertanyaan penting tetap membayangi meskipun Dzeko dan Pellegrini memberikan jawaban yang tegas setelah pertandingan

Capture

Viktoria Plzeň mungkin terlihat seperti gelas yang mudah retak setelah pertandingan kemarin, tapi tim tersebut adalah tim yang sama ketika mereka bangkit dari ketertinggalan 2-0 melawan CSKA Moscow; melalui pemainnya yang sangat berbahaya: Michael Krmenčík – yang secara terang-terangan disebutkan Di Francesco harus dibuat mati tak berkutik.

Krmenčík itulah yang kemarin bermain tidak sampai 90 menit di Olimpico, dia belum sempat memberitahu kita betapa berbahayanya di hadapan pertahanan lawan. Kenyataannya, terlihat beberapa kali gebrakan dari Plzeň di babak pertama.

Pemain Republik Ceko tersebut bahkan memberikan respons yang lebih agresif lagi di babak kedua dengan bola-bola mereka – sesuatu yang bisa disebut berani atau bahkan gila – yang pada akhirnya memberikan kita beberapa pertanyaan mengenai bagaimana Roma mengatasi bola yang berasal dari kedalaman lapangan.

Roma Masih Dalam Pencarian Kreativitas Kedalaman Lapangan Tengah

Apakah Roma masih belum begitu fasih dalam menciptakan peluang dari kedalaman lapangan? Walaupun kita jelas melihat banyak hal keren dilakukan pemain mediani Roma, hal tersebut masih sebatas hal mengontrol penguasaan bola.

Instruksi pada menit ke-15 dari EDF yang diberikan kepada Cristante dan Nzonzi, adalah agar mereka lebih berusaha keras untuk melepaskan diri dari marking lawan. Dikombinasikan dengan tandem bersama Lorenzo Pellegrini yang bergerak lebih ke dalam lapangan untuk memberikan opsi umpan bagi pemain bertahan Roma, akhirnya membuat Plzeň dengan segera terlihat kaget oleh rotasi posisi 3 pemain tengah Roma. Kegigihan Cristante dan Nzonzi untuk mendorong posisi mereka ke posisi penyerangan yang ditinggalkan Pellegrini, kapanpun ada kesempatan, membuat EDF memuji pemain tengah Roma. Dalam kata-katanya sendiri, EDF berucap bahwa para pemain Roma tidak pernah memberi Plzeň titik aman untuk menutup permainan Roma.

Bagaimanapun, Plzeň membalas menyerang di babak pertama dengan memberikan beberapa sengatan dengan berusaha memainkan bola-bola datar, segera setelah mereka sadar bahwa tidak ada banyak keberuntungan untuk bermain bola udara melawan Roma.

Para pemain Roma memberikan kesempatan kepada Federico Fazio untuk mengeksploitasi ruang kosong di pertahanan Plzeň yang kocar-kacir oleh bola udara; pemain Argentina bertubuh besar tersebut didukung oleh bek sayap Roma yang selalu mencoba mengobrak-abrik pertahanan Plzeň dari sisi lebar lapangan.

Yang paling bisa diingat, ketika Luca Pellegrini memanfaatkan momen untuk mengontrol bola dengan sempurna hasil dari umpan panjang 65 meter dari Fazio.

Robin Olsen Hampir Melewati Hari yang Buruk

Sementara itu, Robin Olsen masih terlihat ragu-ragu untuk keluar dari gawang menyongsong bola – walaupun penempatan posisinya di pertandingan ini adalah yang terjauh selama awal musim ini.

Di babak pertama, terlihat Olsen masih asyik sendiri di dekat tiang gawangnya dan kurang terlibat dalam proses permainan – sampai akhirnya dia melakukan sentuhan pertama yang malas sehingga membuat EDF meneriaki Olsen pada menit ke-40, untuk keluar dari kotak penalti dan terlibat aktif dalam permainan tim.

Masih ada beberapa momen lagi dari Olsen yang menyorot gaya permainan konservatifnya. EDF menegaskan sejak pra-pertandingan, mengomentari bahwa Olsen “datang dari suatu liga di mana kiper selalu memberikan bola jauh ke para striker”.

Saya pribadi sadar bahwa Olsen butuh waktu untuk beradaptasi, tapi mengingat Daniel Fuzato telah disiapkan di bangku cadangan (bersama dengan Mirante) yang lebih lihai bermain di luar kotak penalti. Bisa saja dalam waktu kurang lebih satu musim mendatang, Fuzato akan menggunakan keahliannya memainkan bola untuk menciptakan peluang-peluang – sesuai tuntutan kiper modern yang fasih dimainkan Ederson (Manchester City) dan tentu saja: Alisson (ex-Roma).

 

Justin Kluivert Dalam Proses Berkembang

Suatu momen di babak pertama, Cengiz bergerak menerobos ke tengah dari sisi sayap kanan, lalu meluncurkan tendangan keras yang serta-merta menghantam tiang gawang Plzeň. Hal tersebut bisa saja menjadi highlight Liga Champions bagi pemain muda Turki tersebut – bahkan membuat Eusebio Di Francesco menggunakan momen tersebut sebagai contoh tentang apa yang dia inginkan agar dilakukan oleh Kluivert di sayap kiri.

Pelatih berkebangsaan Italia tersebut segera mengirimkan asistennya yang bisa berbahasa Belanda untuk mendekati Kluivert, menginstruksikan agar dia bergerak menerobos ke tengah dari sayap kiri untuk mengancam gawang lawan. Dan respons dari Kluivert setelahnya terlihat sangat positif.

Pada menit ke-70, Justin menerobos menggunakan kaki kanannya untuk bertemu 3 pemain bertahan Plzeň yang sudah siap menghadangnya. Kluivert tidak panik dalam posisi dihadang 1 berbanding 3 orang, sebaliknya dia secara insting mencungkil bola tinggi menuju Dzeko di sisi jauh, dan menciptakan shot-on-gol bagi striker Bosnia tersebut.

Setelah pertandingan, Kluivert menyatakan bahwa dia harus bekerja keras meningkatkan kemampuan bertahan, namun talenta anak itu telah memenuhi ekspektasi yang diinginkan. Dan langkah kakinya yang cepat – diiringi oleh Cengiz telah membuat lawan ketar-ketir.

Penampilan yang Mematikan dari Pellegrini dan Dzeko

Lorenzo Pellegrini menyimpulkan kondisi yang dia hadapi setelah derby, dengan berulang kali menyebutkan bahwa “dia tidak memiliki waktu untuk berpikir” – tidak ada waktu untuk berpikir ketika dia menggantikan Pastore yang cedera di tengah babak pertama (saat dia masih terlihat santai di bangku cadangan), atau bahkan tidak ada waktu untuk berpikir ketika dia mencetak gol menggunakan tumitnya.

Pellegrini mengembangkan insting dan bahkan menghilangkan ketakutan memegang bola. Semakin sedikit waktu dan ruang yang dia miliki, malahan membuat talentanya bersinar menghadapi bola.

Dan juga, bola kirimannya saat set pieces menunjukkan bahwa dia mampu menggunakan bakatnya di hadapan bola mati ketika diperlukan.

Ketajaman Lorenzo dalam bola mati membantunya mengakhiri pertandingan dengan 8 key pass, bahkan tanpa bermain penuh 90 menit (walaupun akhirnya Florenzi yang mengakhiri gol terakhir dengan sebuah assist dari sudut, dan tendangan bebas lainnya yang sayangnya berakhir offside).

Dan lalu tentu saja, ada Sang Ahli Liga Champions milik Roma, Edin Dzeko.

Sepertinya tidak ada kata yang sangat tepat untuk menggambarkan permainan Dzeko. Dia bergerak ke sisi kiri, lalu ke sisi kanan… Wow bahkan dia pun bergerak dari lini ke lini. Aksinya membuat hidup Kluivert dan Pellegrini jauh lebih mudah. Lihat bagaimana caranya mengatur tempo larinya untuk mendapatkan umpan terobosan dari Kluivert- di gol pertamanya – tanda bahwa Dzeko sedang dalam performanya.

Kerjanya dihargai oleh Di Francesco dengan membiarkan Dzeko terus berada di lapangan untuk melengkapinya prestasinya menjadi hattrick!

Dzeko tidak berhenti memimpin timnya untuk mendukung perannya sebagai ujung tombak, menghukum Plzeň di dalam kotak penalti sebagaimana telah dia lakukan di Liga Eropa musim 2016.

Hanya saja, kemarin Plzeň harus rela memberikan Edin Dzeko hattrick pertamanya di Liga Champions (dan pemain Roma pertama yang mencetak hattrick di Liga Champions!)  dan menciptakan 8 gol di 7 pertandingan Liga Champions terakhirnya.

Setelah mencetak 77 gol dalam 147 pertandingannya di Roma, Dzeko memasuki Top-10 pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Roma. Di daftar tersebut, hanya Rodolfo Volk (0.66 gol per pertandingan) dan Pedro Manfredini (0.63 gol per pertandingan) yang menciptakan gol dengan laju yang lebih cepat daripada Dzeko di 3.5 musimnya bersama Roma (0.57 gol per pertandingan).


 

Dan jangan melupakan kontribusi para pemain Roma Muda di lapangan, seperti Nicolo Zaniolo, Luca Pellegrini, Justin Kluivert and Patrick Shick – bersama dengan bintang muda Roma lainnya seperti Lorenzo Pellegrini dan Cengiz Under.

Ini adalah permainan yang telah kita tunggu-tunggu sejak awal musim, dengan menggunakan keunggulan darah muda berbakat tersebut dalam musim-musim selanjutnya – suatu masa depan yang cerah bagi kita para Romanista.

Kita akan terus berharap pada permainan dari jiwa dan darah muda Roma, dalam pertandingan selanjutnya melawan Empoli, sebelum adanya jeda pertandingan internasional.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s