Roma Mengalahkan Empoli 2-0, Kemenangan Beruntun Keempat!

Empat kemenangan beruntun dengan 14 gol tercipta dan hanya kebobolan 1 gol! Bukanlah permainan terbaik AS Roma sejauh ini, tapi Nzonzi dan Dzeko berhasil melakukan tugasnya

Squadra-Empoli-Roma

Dengan dua kemenangan beruntun Roma di Serie A, dan tiga kemenangan beruntun di seluruh kompetisi, Roma diharapkan untuk tampil di Stadio Castellani dengan gagah perkasa. Mengubah formasi mereka menjadi 4-2-3-1 dengan menggunakan seorang playmaker, udara segar seakan memenuhi paru-paru Roma setelah formasi 4-3-3 yang gagal di awal musim, pasukan Eusebio Di Francesco terlihat taktis dan efisien, jumawa atas Frosinone, Lazio, dan Viktoria Plzen dalam minggu terakhir, dan melawan tim yang relatif lebih lemah, Empoli, diharapkan akan meneruskan rentetan kejumawaan Roma.

Walaupun kobaran semangat bertanding Roma terlihat redup di pertandingan ini, lapangan rumput bagi Roma seakan tergenang oleh air; bukan permainan yang terburuk sejauh ini; namun kurang terlihat gempuran serangan yang sebelumnya sangat nikmat untuk dilihat.

Umpan terobosan demi umpan menemui jalan buntu, serta skema permainan kedua tim yang lambat menciptakan hanya tujuh tembakan di babak pertama, hanya 4 yang mengarah ke gawang; keinginan untuk menembak terlihat eksis, tapi hukum fisika yang kekal seakan menyulitkan bola tertendang kaki pemain.

Dengan cuaca yang sepertinya mengurangi semangat bertanding, sepertinya pertandingan ini akan menjadi laga klasik Serie A dengan sedikit gol yang tercipta; atau bahkan hanya tercipta gol yang melalui kemelut dan bola pantulan acak.

Roma akhirnya berhasil untuk memanipulasi pertahanan Empoli dengan keinginan kuat, dan sekali lagi, Lorenzo Pellegrini berhasil mengambil alih kendali. Sang saudara satu marga dari Luca Pellegrini – walaupun tidak berhubungan darah – telah menjadi pemain menentukan dalam kebangkitan Roma beberapa laga terakhir – tidak terlihat seperti playmaker No.10 klasik seperti Totti – tapi dia memiliki kapabilitas untuk menciptakan peluang dengan intuisi dan umpannya.

Dan, salah satu rahasia terbesar Lorenzo – yang baru-baru ini kita sadari – adalah kemampuannya memanfaatkan bola mati, yang kembali terlihat pada dini hari lalu.

Steven Nzonzi: Minute ke-36 (Empoli 0, Roma 1)

Apresiasi penuh untuk Steven Nzonzi yang telah mendaki tangga dengan menciptakan gol ini – suatu teknik yang sempurna – namun yang satu ini pun harus diapresiasi untuk Pellegrini; yang memainkan bola dengan lintasan dan sudut yang menakjubkan. Kita telah membahas hal ini sebelumnya pada diskusi ini tapi akan saya ulang; Javier Pastore barangkali akan segera kehilangan pekerjaannya.

Babak Kedua

Roma tidak segera menekan pada awal babak kedua, sehingga Empoli menciptakan beberapa serangan cepat untuk memulai babak, hampir menciptakan gol sebelum Edin Dzeko mencegahnya (ya, Edin terlihat memutari lapangan di hari ini). Bagaimanapun, Roma mencoba membalas dengan memainkan bola ke Lorenzo Pellegrini dan Cengiz Under, tapi tanpa hasil.

Stephan El Shaarawy sementara itu bermain buruk di sisi kiri lapangan, hampir tidak terlihat keberadaannya selama pertandingan, membuat Cengiz Under harus bergulat sendirian menyokong Edin Dzeko.

Sisi bek sayap kiri yang diisi oleh Luca Pellegrini, terlihat cukup potensial untuk meneruskan tradisi jenderal asli Roma berikutnya – Luca memiliki langkah yang cepat, intuisi menyerang yang baik, serta kemampuan tackling yang cukup mumpuni – namun terlihat dia masih kurang pengalaman untuk bermain di level tertinggi, mengingat ini debut pertamanya di Serie A.

Pertandingan hampir membuat Roma menembak kepalanya sendiri ketika Empoli diberikan hadiah penalti untuk menyamakan kedudukan. Ketika terjadi kemelut, Cengiz Under yang berusaha me-marking lawan, berlari menuju tiang dekat untuk menutup pergerakan lawan, tanpa sengaja tangannya segera mencium bola crossing lawanmembuat wasit menunjuk titik putih, kemudian terjadi drama VAR yang tetap memberikan penalti bagi Empoli.

Entah bagaimana ceritanya, Francesco Caputo dengan sempurna menyia-nyiakan peluang emas menyamakan kedudukan, ketika tendangannya melayang di atas mistar gawang. Pemain terlihat merayakan hal tersebut, terlihat Olsen beradu dada dengan De Rossi.

EDF segera membuat perubahan skema, menggantikan Luca Pellegrini untuk Alessandro Florenzi, membuat Davide Santon (yang sangat mampu membaca permainan lawan, baik dalam bertahan, dan telah berhasil menyapu beberapa peluang Empoli) bermain di bek sayap kiri. Davide Santon adalah pemain bek sayap yang serba bisa, mampu bermain di sayap kiri dan sayap kanan sama baiknya – bahkan di masa remajanya, sempat dijuluki “Paolo Maldini Italia berikutnya”.

Luca Pellegrini keluar, telah memainkan satu jam yang baik di debut Serie A pada usia 19 tahun, terlihat kuat saat membawa bola, berdeterminasi dalam melakukan tackling, dan agresif dalam penyerangan; tanpa ragu saya bilang dia akan menjadi seorang pemain spesial.

Dalam pertandingan yang memasuki menit ke-70an, kaki-kaki pemain Roma mulai terlihat letih, sehingga Empoli berhasil menemukan ruang beberapa kali, hampir saja mencetak gol ketika Caputo berhasil mendapatkan bola dari sisi sayap kanan, ketika tendangannya melesat sedikit di atas mistar gawang.

Bahkan sebuah tendangan bebas dari Empoli menerpa tiang gawang kanan sisi luar milik Olsen.

Melihat gempuran Empoli, EDF segera membuat taktis yang pragmatis dengan memperkuat lini pertahanan, menarik keluar Lorenzo Pellegrini untuk Bryan Cristante dan Under untuk Juan Jesus, mengubah pertahanan menjadi 3 bek tengah, dengan Florenzi dan Santon sebagai bek sayap.

Perubahan itu terlihat tidak ada dampaknya karena Empoli masih menyerang, dan Cristante maupun Juan Jesus tidak terlihat efektif di sisi pertandingan. Tapi Roma berhasil menciptakan perangkap offside yang hebat – applaus untuk koordinasi Fazio dan Manolas dalam menerapkan perangkap tersebut – sayang sekali Roma tidak mampu menjaga possession karena lini tengahnya yang terlihat kekurangan akurasi.

Akhirnya, terlihat betapa drastis perubahan keberuntungan Roma ketika Robin Olsen terlihat menyerupai Alisson, menciptakan orkestra umpan gawang untuk menciptakan peluang gol bagi timnya.

Robin Olsen, kita berikan kredit tinggi baginya, meneruskan umpan panjang ke Edin Dzeko melewati lini tengah. Dari sana, Dzeko memutar kepalanya untuk memberikan bola ke El Shaarawy, yang mengambil beberapa langkah sebelum mengulur waktu untuk memberikan bola ke Edin Dzeko, yang menciptakan trik sedikit sebelum dengan jeli mencetak gol tepat di bawah mistar gawang.

GOOLLLLL……!!!!!!!!! 2-0, Game over.

DAJE ROMA…!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s