AS Roma dan Napoli, Persahabatan Kental Berujung Rasa Benci

koulibaly-dzeko-asromaindocom

Ada 11 derby di percaturan sepakbola Italia.

Paling terkenal tentu saja Derby della Capitale (AS Roma vs SS Lazio), Derby della Madonnina (Inter Milan vs AC Milan), atau Derby d’Italia (Juventus vs Inter Milan).

Bisa jadi, tak banyak yang tahu pertarungan antara AS Roma vs Napoli yang akan berlangsung Minggu 28 Oktober 2018, juga masuk ke dalam daftar 11 derby panas di Italia.

AS Roma vs Napoli sejak lama sudah disebut sebagai Derby del Sole atau jika diartikan berarti derby matahari.

Kadang, laga ini juga dilabeli sebagai Derby del Sud (Derby Selatan) dan Derby of the Discord (Derby Perselisihan).

Derby del Sole memang tak seterkenal 3 derby utama. Namun bukan berarti Roma vs Napoli tak punya sejarah yang menarik. Justru pertemuan kedua tim menjadi anomali dari perseteruan antarklub Italia.

Lazimnya, sebuah derby sudah kental dengan aroma permusuhan sejak awal. Roma dan Napoli tidak demikian.

Dulu, I Lupi dan I Partenopei sudah bagai sahabat. Bahkan, suporter Roma dan Napoli rajin berinteraksi lewat aliansi Katolik antara Kepausan Roma dengan Kerajaan Sisilia.

Faktanya, AS Roma dan Napoli sudah menjadi sekutu sejak liga sepak bola profesional Italia Serie-A pertama kali digelar pada 1929–1930.

Mereka kompak bergandengan tangan guna melawan klub-klub asal Italia Utara, yakni Juventus, AC Milan, dan Inter Milan.

Alasannya berbau politik.

Roma dan Napoli tak terima pemerintah Italia terlalu memerhatikan kawasan utara Italia. Lantaran terus disokong oleh dana melimpah dari pemerintah, masyarakat di Kota Turin dan Milan akhirnya membanggakan diri sebagai kaum borjuis.

Sedangkan masyarakat Italia tengah serta selatan harus gigit jari menjadi kaum buruh nan miskin. Kecemburuan sosial ini membuat aliansi Roma-Napoli makin kuat untuk melawan tridente Juventus-Inter Milan-AC Milan.

Harmonisasi antara Roma dan Napoli berlangsung selama puluhan tahun. Namun hanya karena nila setitik, janji suci untuk tetap setia antara Roma dengan Napoli rusak pada musim 1987-1988.

Gestur seorang pemain Napoli yang berujung provokasi layak disebut sebagai biang keladi.

Kejadian bermula ketika I Lupi menjamu I Partenopei di Stadion Olimpico pada 25 Oktober 1987. Tensi pertandingan sedikit memanas karena Napoli, Roma, beserta Milan sedang berburu gelar juara Scudetto kala itu.

Emosi suporter Napoli sebetulnya sudah terbakar ketika wasit mengeluarkan dua kartu merah. Keduanya untuk pemain I Partenopei, yakni Alessandro Renica serta Careca.

Rasa geram fan Napoli yang memadati Curva Nord Stadion sudah pasti makin mendidih lantaran tim kesayangan kebobolan pada awal babak kedua.

Emosi fan sempat mereda ketika Napoli sukses menyamakan kedudukan lewat sundulan Giavanni Francini pada menit ke-67. Sebuah gol yang membuat laga berakhir dengan skor imbang.

Derby del Sole mungkin tidak akan pernah memanas jika tidak ada insiden lanjutan setelah laga.

Sayang, jauh panggang dari api. Pemain Napoli yang seharusnya langsung ke ruang ganti justru memberikan gestur provokasi di pinggir lapangan.

Sasaran tentu saja suporter I Lupi di Curva Sud. Pelaku utama adalah defender I Partenopei, Salvatore Bagni. Ia mengacungkan jari tengah kepada fan Roma.

salvatore-bagni-asromaindocom

Persahabatan antara suporter Roma dan Napoli tidak pernah membaik sejak saat itu.

Seusai pertandingan, keributan terjadi di luar stadion. Bar dan gang sempit paling sering dijadikan arena adu jotos fans I Lupi dan I Partenopei.

Percikan rasa benci di antara kedua suporter terus memanas selang puluhan tahun kemudian.

Makin mendidih setelah insiden pada 2014. Tepatnya sebelum Napoli melawan Fiorentina di Final Copa Italia di Stadion Olimpico Roma.

Ketika itu, tiga fan Napoli dilarikan ke rumah sakit setelah terlibat keributan.  Kondisi Ciro Esposito paling nahas. Sebab, bagian dadanya ditembus sebuah peluru. Setelah 50 hari berjuang di rumah sakit, Ciro akhirnya meninggal dunia.

ciro-esposito-asromaindocom

“Ciro telah meninggal. Kota Naples mengumumkan hari ini sebagai berkabung untuk Ciro dan keluarganya,” ujar Walikota Naples kala itu, Luigi de Matistris.

Fan Napoli langsung mengamuk ketika mendengar hasil investigasi kepolisian Italia. Sebab, pemimpin Ultras I Lupi, Daniele De Sanctis ternyata sebagai sosok yang melepaskan timah panas ke dada Ciro. Atas kejadian itu, De Santis akhirnya divonis penjara selama 26 tahun.

Beragam kejadian tersebut membuat persahabatan Roma dan Napoli rusak.

Tersisa hanya rasa benci. Sebuah kebencian yang akan menyulutkan api persaingan di Derby del Sole pada akhir pekan ini.

#beritasepakbola #sepakbola #ASRoma #Napoli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s