Sejarah Hari Ini – Tembakan Flare Ultras AS Roma Tewaskan Seorang Laziale

vincenzo-paparelli-asromaindocom

Dini hari nanti, AS Roma akan tandang ke sarang Napoli dalam sebuah derby panas yang dijuluki Derby del Sud (derby Selatan Italia).

Berbicara mengenai derby, tepat pada hari ini 28 Oktober 39 tahun yang lalu, pada sebuah laga derby de la Capitale yang panas pada tahun 1979 menjadi hari kelam bagi fan SS Lazio, Vincenzo Paparelli.

Petasan, flare, kembang api, atau bahkan rokok, tak seharusnya diperbolehkan dibawa masuk penonton ke dalam stadion sepakbola.

Hal itu terkandung dalam regulasi keselamatan menonton di stadion yang dikeluarkan FIFA, alasannya karena barang-barang tersebut akan mengganggu jalannya pertandingan dan bisa memakan korban jiwa apabila digunakan tidak sebagaimana mestinya.

Insiden seperti itu sudah pernah terjadi pada 28 Oktober 1979 di laga Serie A Liga Italia, antara AS Roma versus SS Lazio.

Dalam pertandingan bertajuk Derby della Capitale yang berakhir imbang 1-1, suporter Lazio bernama Vincenzo Paparelli menjadi korban.

Dikutip dari berbagai sumber termasuk buku Two Left Feet, Paparelli saat itu tewas di usia 33 tahun karena tembakan flare dari suporter fanatik (ultras) AS Roma, Giovanni Fiorillo.

Sebelum dinyatakan tewas, kala itu pria 33 tahun tersebut sedang asyik menonton pertandingan di Curva Nord sambil memakan sandwich bersama istrinya, Wanda.

Paparelli, yang merupakan suporter Lazio biasa, mendapat tiket di area menonton ultras Lazio dari kakaknya yang tak bisa hadir.

Nahas bagi Paparelli karena di hari itu menjadi hari terakhirnya menonton pertandingan sepakbola.

Tiba-tiba tembakan flare dari Curva Sud, yang merupakan tribune ultras Roma, mengarah tepat padanya dan mengenai mata kirinya, melihat hal itu Wanda pun berusaha mematikan api yang membakar mata suaminya.

“Kau tak boleh meninggal Vincenzo, kau tak bisa meninggalkanku di sini sendirian! Kita punya dua anak,” kata Wanda yang memohon pada Paparelli untuk bertahan.

Dokter yang kemudian datang tidak sanggup menolong Paparelli karena sudah tidak bernyawa.

Stadion Olimpico pun ricuh karena tembakan flare Fiorillo menelan korban.

Fiorillo mengira tembakan yang ia sulut hanyalah kembang api biasa dan bukanlah flare.

Remaja 18 tahun yang berprofesi sebagai pelukis itu kemudian segera menghilang dan menjadi buronan polisi.

Kabar burung beredar bahwa Fiorillo kabur ke Swiss dan selama pelariannya ia sering menelepon kakak Paparelli untuk meminta permohonan maaf, ia mengaku tak bermaksud membunuh.

Dikabarkan dalam pelariannya, dia sering menulis surat pada keluarga Paparelli untuk kembali meminta permohonan maaf.

Insiden flare yang merenggut Paparelli pada 28 Oktober menjadi hari berkabung bagi para Laziale setiap tahunnya.

Walau sayang, kubu ultras Roma beberapa kali terlihat tidak menaruh respek pada kematian Paparelli dengan membentangkan spanduk berisikan namanya untuk memprovokasi fan Lazio.

Sebagai Romanista Indonesia, kita tidak boleh seperti itu, ya?

#beritasepakbola #sepakbola #ASRoma #SSLazio #VincenzoPaparelli #GiovanniFiorillo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s