Robin Olsen Paling Difavoritkan Memenangkan Penghargaan Golden Ball Swedia 2018

robin-olsen-2-asromaindocom

Tahun 2018, pria ini membuat pencapaian demi pencapaian untuk menaklukkan panggung Eropa dan dunia.

Pertama adalah Piala Dunia FIFA 2018 bersama tim nasional Swedia, kemudian dipanggil untuk membela klub raksasa Italia, AS Roma; dan kesempatan pamungkas memenangkan penghargaan Golden Ball Swedia 2018.

Pemain Giallorossi tersebut menjadi pemain Nordic yang paling diunggulkan dan menjadi kandidat untuk memenangkan trofi ini.

Namun, selama 10 tahun berturut-turut gelar ini dimenangkan oleh Zlatan Ibrahimovic, tahun ini pun Ibra masih menjadi favorit, namun tidak sedominan sebelumnya.

Tahun ini sepertinya persaingan ketat terjadi antara Robin Olsen dan Lindelof.

Penghargaan akan diberikan pada 12 November, dan penjaga gawang Giallorossi akan hadir.

Berbicara mengenai Ibrahimovic, seperti biasanya pemain kontroversial tersebut selalu berkoar, “Tentu aku akan hadir, tanpa kehadiran diriku, tidak ada figur penting yang akan dikenal publik,” katanya.

Siapa Sih Sebenarnya Robin Olsen?

Robin Olsen bisa dibilang adalah salah satu aktor utama kesuksesan Swedia yang merupakan tim non-unggulan di ajang Piala Dunia FIFA 2018, tapi dapat melaju hingga perempat-final. Hebatnya lagi, ia melakukan itu di Piala Dunia pertamanya!

Akan tetapi, perjalanan awal karier Robin Olsen tak semulus seperti penampilannya di Rusia pertengahan tahun ini. Sebelumnya, ia bahkan pernah berpikir untuk pensiun dini di umurnya yang masih sangat muda, 17 tahun, dikarenakan menderita cedera lutut.

Robin Olsen yang lahir pada 8 Januari 1990 di Malmo, Swedia, memiliki orang tua yang berpaspor Denmark, tapi Olsen sendiri tumbuh besar di Swedia.

Ia mengawali karier mudanya bersama akademi sepakbola lokal Swedia, dan berlanjut ke Malmo FF, BK Olympic, FC Malmo, serta Bunkeflo IF dalam kurun waktu 1997-2007. Di klub yang disebut terakhir, ia melakoni debut profesionalnya di Liga Swedia, tepatnya di kasta kedua (Superettan), pada tahun 2008.

Berjuang Keras dari Kasta Bawah

Kemudian pada tahun 2011, Robin Olsen kembali ke klub tempat ia mengawali karier sebagai pesepakbola, sekaligus klub kota kelahirannya, yakni Malmo FF. Baginya, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, dan ia sangat berambisi untuk membuktikan dirinya layak menjadi pilihan pertama. Pada saat itu Olsen harus bersaing dengan Johan Dahlin yang merupakan kiper utama Malmo.

Harapan itu kemudian datang pada Oktober 2012. Johan Dahlin harus absen karena larangan bertanding, sehingga Olsen otomatis dipercaya untuk menggantikannya. Olsen tidak tampil canggung di laga tersebut, dan mengakhiri laga dengan clean sheet via skor 0-2 melawan Syrianska FC.

Berlanjut pada tahun 2015, pelatih timnas Swedia saat itu, Erik Hamren, memanggil Olsen untuk memperkuat Blågult, julukan timnas Swedia. Akan tetapi saat itu Olsen sendiri masih dilema untuk memilih memperkuat timnas Swedia, atau Denmark yang notabene adalah negara asal kedua orangtuanya.

Dilema ini bukan perkara sepele, karena Olsen di awal kariernya mengaku bahwa dia adalah orang Denmark. Kiper legendaris Denmark, Peter Schmeichel, merupakan idolanya, dan Olsen lebih suka menunjukkan dirinya sebagai pemain Denmark.

Namun, melihat Denmark saat itu memiliki beberapa alternatif kiper, seperti Kasper Schmeichel, Stephan Anderson, Nicolai Larsen, dan Jasper Hensen, membuat Olsen memilih memperkuat negara di mana ia dibesarkan, yaitu Swedia. Itu dikarenakan dirinya yakin akan dapat peluang bermain yang lebih menjanjikan bersama Swedia.

Kembali ke level klub, empat tahun bersama Malmo FF membuat Olsen ingin mencari tantangan baru, yang turut didasari oleh permainannya yang semakin matang. Singkat cerita pada musim panas tahun 2015, Olsen kemudian bergabung bersama klub Yunani, PAOK FC, tapi kiper setinggi 198 sentimeter itu tak lama bertahan bersama klub yang berjuluk Oi Aspromavroi tersebut.

Ia lantas dipinjamkan ke klub Denmark, FC Copenhagen, pada Januari 2016. Di masa peminjamannya, penampilan Olsen awalnya tidak begitu baik. Namun, lambat laun ia menunjukan perkembangan, hingga ia diberikan kontrak permanen bersama klub ibu kota Denmark tersebut.

Bersama FC Copenhagen, Olsen mencatatkan 71 penampilan sekaligus membawa timnya menjadi kampiun Liga Utama Denmark (Danish Superliga), dan turnamen resmi Denmark, DBU Pokalen, selama dua musim beruntun dari 2015/2016 dan 2016/2017.

Raihan tersebut membuat dirinya menyabet gelar individu kiper terbaik Swedia periode 2016 dan 2017.

Dari Rusia menuju Ibukota Italia

Performa apiknya bersama Copenhagen kemudian ia tularkan di timnas Swedia. Olsen mampu membawa Swedia kembali bermain di ajang bergengsi, Piala Dunia 2018, setelah absen di dua edisi sebelumnya. Swedia bahkan melakukannya dengan cara yang heroik; menyingkirkan tim nasional Belanda sang finalis Piala Dunia FIFA 2010 di babak kualifikasi, dan mengeliminasi tim nasional Italia sang juara Piala Dunia FIFA 2006 di babak play-off.

Bersama Swedia di ajang Piala Dunia FIFA 2018, Olsen bermain sangat apik . Bukan hanya mampu membawa Swedia hingga perempat-final, tapi juga mencatatkan 11 kali penyelamatan dan 2 clean sheets dalam lima kali kesempatan bermain.

Usai Piala Dunia 2018, Olsen kemudian resmi bergabung dengan tim papan atas Serie A, AS Roma. Klub Serigala Ibu Kota tersebut menghabiskan dana 8,5 juta euro ditambah bonus 3.5 juta euro, untuk memboyong kiper dengan 23 caps di timnas Swedia tersebut ke Olimpico.

Lycka till (Good Luck), Robin Olsen!

#beritasepakbola #sepakbola #RobinOlsen #ASRoma #goalkeeper

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s