Wow! ‘Roma’ Jadi Film Berbahasa Asing Terbaik Golden Globes 2019!

roma-alfonso-cuarón-golden-globes-2019

Film Roma karya sutradara bertangan dingin, Alfonso Cuarón berhasil membawa pulang piala penghargaan Golden Globes 2019 sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik!

Golden Globes tahun ini berlangsung di Beverly Hilton, California, Amerika Serikat pada Minggu (6/1/2019) malam waktu setempat. Roma mengalahkan nominee lainnya, yakni Capernaum (Libanon), Girl (Belgia), Never Look Away (Jerman), dan Shoplifters (Jepang).

“Terima kasih banyak Yalitza Aparicio dan Marina de Tavira. Kita harus mulai memahami persis berapa banyak kesamaan yang kita miliki,” kata Cuaron dalam pidato kemenangannya.

“Film ini tidak akan mungkin ada tanpa warna-warna khusus yang membuat saya menjadi diri saya sendiri. Gracias famila y gracias Mexico,” tambahnya.

Film Roma yang dibuat secara hitam putih dengan hampir seluruh kru berasal dari Meksiko, menandai proyek pertama Cuarón sejak Gravity 2013.

Berlatar era 1970 dan 1971 di Colonia Roma, sebuah kota di Meksiko, film ini berpusat pada Cleo, dimainkan oleh pendatang baru Yalitza Aparicio.

Karakter itu terinspirasi dari pengasuh Cuarón saat kecil, yang nama aslinya adalah Liboria “Libo” Rodriguez. Roma tayang di beberapa bioskop tertentu dan di Netflix.

Melihat Roma seperti melihat sebuah dokumenter kehidupan masyarakat kelas bawah yang berjuang, bukan hanya secara ekonomi dengan menjadi pekerja rumah tangga, namun juga menerima kehidupan yang kadang terasa kejam.

Sutradara peraih penghargaan Oscar, Alfonso Cuaron menampilkan satu babak kehidupan dramatis dari Cleodegaria “Cleo” Gutiérrez (Yalitza Aparicio) yang dibawakan secara emosional tak berlebihan, dan terasa personal.

Roma digarap, ditulis, dan disunting sendiri langsung oleh Cuaron. Mengangkat kisah yang terinspirasi dari kehidupannya sendiri, Cuaron menempatkan berbagai aspek, mulai dari soal alur, teknik, hingga rasa dari film terasa pas dan sesuai dengan porsinya.

Berlatar di awal dekade 1970-an, Cleo merupakan seorang asisten rumah tangga pada umumnya. Setiap harinya, ia sibuk melayani sebuah keluarga kelas menengah di Mexico City dan menjadi pengasuh bagi empat anak dalam keluarga tersebut.

Ia juga seorang wanita asisten rumah tangga pada umumnya. Dengan polos, ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang laki-laki dari kelas sosial yang sama. Keduanya memadu kasih, hingga kemudian Cleo hamil.

Di sisi lain, nyonya majikannya yang bernama Sofia harus menghadapi kelakuan sang suami, Antonio, yang jarang pulang dan pemarah. Hingga suatu kali, Sofia menyadari Antonio memiliki wanita simpanan.

Cleo bukan hanya harus menghadapi kondisi emosional majikannya yang berantakan sembari mengurus empat anak-anaknya dan rumah yang besar, tetapi juga cerita cintanya yang nelangsa.

Ia ditinggalkan sang pacar yang tak mau mengakui si jabang bayi.

Cerita nelangsa Cleo tak berhenti di situ. Berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan kemandirian di tengah situasi yang tak menentu, Cleo dalam perjalanannya menemukan hal lain yang jauh lebih berarti.

Kisah film ini memang humanistik. Tipikal Cuaron. Ia gamblang menunjukkan kehidupan nyata masyarakat menengah ke bawah yang berkutat dengan masalah sehari-hari dan jauh dari hingar-bingar politik kekuasaan.

Namun bukan berarti Cuaron tak menunjukkan masalah sosial-politik di era tersebut. Ia juga menunjukkan bagaimana masyarakat merasakan ketidakpuasan akan masalah ekonomi dan kesejahteraan serta mengungkapkannya kepada pemerintah.

Satu yang menarik dari Roma adalah keputusan Cuaron memilih pewarnaan monokrom untuk film ini. Dengan teknik tersebut, Cuaron ‘memaksa’ penonton untuk mengikuti ceritanya alih-alih fokus dengan warna gambar yang kadang menipu mata.

Selain itu, pengambilan gambar yang cenderung stabil membuat penonton ‘kalem’ mengikuti alur cerita Roma hingga benar-benar memahami emosi yang disampaikan Cuaron dalam film ini.

Cuaron juga tak banyak menggunakan scoring musik selain suara yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari gemericik air, suara menyikat lantai, parade jalanan, hingga suara kebakaran hutan.

Meski pada awalnya dan di beberapa bagian terkesan menjadi ‘berisik’, namun secara tidak langsung scoring suara ‘sehari-hari’ itu merupakan keputusan tepat bila Cuaron ingin menampilkan film yang dramatis tanpa banyak bumbu-bumbu drama.

Emosional tanpa lebay.

Melalui Roma, Cuaron menunjukkan bahwa dirinya benar-benar memperhatikan segala aspek dalam film ini secara mendetail, setiap gerakan kamera, momen-momen adegan, hingga tatapan para pemainnya tertata secara halus dan terkonsep.

Sehingga wajar banyak yang menyebut film ini sebagai mahakarya dunia perfilman!

Penilaian tersebut pun mendulang berbagai pujian dan penghargaan bagi Roma, salah satunya Golden Globe Awards 2019 yang mendapatkan tiga nominasi sekaligus: Best Foreign Language Film, Best Director, dan Best Screenplay!

Bagi sebagian penonton, apalagi di Indonesia, film ‘Roma’ mungkin akan membuat bosan di awal-awal menonton, apalagi film ini berbahasa Spanyol dan tak terlalu banyak dialog, apalagi aksi heboh yang mengundang decak kagum.

Namun, Cuaron memang lebih senang ‘alon-alon asal kelakon’, perlahan namun mencapai tujuannya di akhir.

“Oh saya sangat senang karena [pujian] itu menghasilkan reaksi-reaksi atas film tersebut kala film itu dirilis,” kata Cuaron saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Roma mendapatkan pujian luar biasa kala rilis perdana 30 Agustus 2018 di Venice International Film Festival. Pujian semakin mengalir kala film monokrom tersebut resmi rilis pada 21 November 2018.

Dinarasikan secara apik oleh Cuaron, film ini disebut-sebut sebagai karya paling personal sutradara 57 tahun tersebut.

Film ini kemudian menghasilkan banyak penghargaan dan nominasi, seperti pada Golden Globe Awards 2019. Untuk Oscar 2019, sejauh ini, Roma masuk daftar pendek kategori Best Foreign Language Film.

Dalam kategori Best Foreign Language Film Golden Globe Awards, Roma menjadi film kedua Cuaron yang masuk dalam kategori tersebut.

Pada 2002, karyanya yang juga berbahasa Spanyol, Y Tu Mama Tambien mengantarkan dirinya masuk nominasi Golden Globe untuk pertama kali meskipun tak berhasil menyabet piala Golden Globe.

“Saya sangat bahagia soal hal tersebut [nominasi] tapi saya juga sangat bahagia karena ini film Meksiko dan berbahasa Spanyol,” kata Cuaron.

“Jadi saya juga sangat bahagia karena Golden Globe merayakan keberagaman dalam film dari budaya yang jauh berbeda dari mereka,” lanjutnya.

#berita #film #movie #Roma

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s