[ANTIK] Lazio 1, AS Roma 1: ANalisa TakTIK ala ASROMAINDO (Fonseca Football? Hmm Apa Itu Ya…?)

aleksandar-kolarov-as-roma-2019

Fonseca Football kehilangan jati dirinya pada laga ini.

AS Roma & Lazio berbagi poin pada sebuah laga derby yang brutal (secara alur permainan). Kedua tim menghantam tiang gawang sebanyak total 6 kali selama 90 menit laga! (AS Roma 2x, Lazio 4x)

Seperti yang sudah kita analisa pada prediksi pra-laga di artikel ini, Alessandro Florenzi seharusnya memulai laga sebagai winger sayap kiri. Namun, seakan menjadi sebuah kutukan, setiap jelang laga penting, Dewi Fortuna sering kali menjauh dari Trigoria.

Tepat sewaktu pemanasan sebelum laga dimulai, Davide Zappacosta yang sudah diplot sebagai bek sayap kanan, tiba-tiba mengalami kram otot. Hal itu memaksa Alessandro Florenzi kembali ke posisi regularnya sebagai bek sayap kanan – padahal sepanjang minggu lalu, anak asuh Paulo Fonseca telah melatih dengan tekun dalam bereksperimen menempatkan Florenzi sebagai penyerang sayap kiri.

Pada laga derby della Capitale terawal sepanjang sejarah, gol AS Roma hadir dengan bau keberuntungan, setelah bola umpan silang Edin Dzeko membentur tangan Milinkovic-Savic dan menghasilkan hukuman penalti bagi Lazio.

Yang lalu dituntaskan dengan tenang oleh Aleksandar Kolarov:

Selepas gol penalti, pertahanan AS Roma terlihat kocar-kacir dan bahkan Pau Lopez sempat melakukan sebuah blunder yang hampir berbuah gol bagi lawan! Hal itu terjadi ketika Pau mengambil tendangan gawang, eh bolanya langsung mengarah dan diterima dengan baik oleh pemain Lazio, untungnya tendangan lawan berhasil ditangkap dengan baik ke dalam pelukan Pau Lopez.

Selain itu, masih ada 3x kesempatan lagi ketika tendangan Lazio membentur tiang gawang Pau Lopez di babak pertama. Sementara itu, dua tendangan Nicolo Zaniolo pun membentur 2x tiang gawang Strakosha.

Jumlah tendangan yang membentur tiang ini adalah rekor tertinggi sejak tahun 2004, berdasarkan data dari Opta.

Tidak seperti laga melawan Genoa, di laga derby della Capitale, sektor penyerangan dan lini tengah AS Roma seakan mati kutu oleh pressing tim lawan.

Lini tengah terlihat bingung dan mulai muncul gejala-gejala buruk yang sudah ada sejak era Eusebio Di Francesco: lini tengah seakan takut untuk menjemput dan menerima bola, kurangnya mobilitas, dan tidak ada pergerakan yang fluid dari pemain tengah.

Hal itu membuat aliran bola AS Roma hanya berkutat di lini belakang, dimulai dari duo bek tengah (Fazio-Mancini) ke duo bek sayap (Florenzi-Kolarov), kemudian stuck sampai di sana. Tidak ada aliran bola fluid yang diagung-agungkan Fonseca.

Duo pivot lini tengah, Bryan Cristante & Lorenzo Pellegrini tidak terlihat menjadi motor serangan.

Cristante kembali ke identitas yang melekat padanya musim lalu: malas bergerak, sering salah memberikan umpan.

Sementara itu, Pellegrini terlihat menghilang dari lapangan pertandingan: tidak pernah menjemput bola ke lini belakang, cenderung menunggu bola di area pertahanan lawan, dan jarang melakukan tusukan maupun dribble.

Kurang mengalirnya bola dari lini pertahanan ke lini tengah, diperburuk dengan amat baiknya aksi pressing para pemain Lazio: seluruh pemain Il Biancocelesti terus menekan pemain Roma yang sedang memegang bola, bahkan hingga ke depan gawang Pau Lopez.

Di lini depan, terlihat keegoisan dan nihilnya kerjasama yang apik antara Dzeko-Kluivert-Under-Zaniolo.

Sedikitnya ada 2x kesempatan baik bagi Justin Kluivert untuk menyodorkan bola ke Cengiz Under, namun Kluivert memilih untuk langsung melancarkan tembakan ke gawang.

Sayangnya… Shooting Kluivert jauh dari kata bagus…

Kluivert terlihat masih menjadi seorang pesepakbola mentah yang minim pengalaman, dan mungkin ada motivasi dalam dirinya untuk menjadi bintang laga dengan mencetak gol (layaknya Cengiz Under minggu lalu yang menggemparkan stadion dengan gol cepatnya melawan Genoa).

Zaniolo pun seringkali memilih untuk melakukan shooting langsung, namun berbeda dengan Kluivert, shooting Zaniolo jauh lebih berkualitas dibandingan Kluivert (2x menghantam tiang gawang, dan 1x melesat sedikit di atas tiang gawang).

Kembali ke aspek pertahanan, Lazio terlihat cerdik memanfaatkan buruknya skill bertahan Alessandro Florenzi: hampir seluruh serangan Lazio selalu mengincar sisi kanan pertahanan AS Roma yang dikawal Florenzi.

Lazio tahu bahwa titik lemah pertahanan Roma terletak pada Florenzi.

Florenzi seharusnya jangan dimainkan sebagai bek sayap, karena Il Capitano tidak memiliki latar belakang seorang pemain bertahan, dan bahkan tidak memiliki fisik dan kekuatan untuk duel memperebutkan bola.

Pada awal kariernya, Florenzi dikembangkan sebagai seorang penyerang sayap. Bukan menjadi seorang bek sayap (walaupun sama- sama bergerak menyisir sisi lapangan).

Beberapa kali memang Florenzi berhasil melakukan intersepsi bola, namun itu lebih dikarenakan kecepatannya bergerak, bukan karena skill bertahannya.

Namun, seperti yang sudah disebutkan di awal, Dewi Fortuna seakan tidak berkenan membiarkan AS Roma memainkan bek-bek sayap terbaiknya: cedera terus menghantui Leonardo Spinazzola & Davide Zappacosta.

Satu-satunya hal positif dari permainan AS Roma semalam adalah duo bek tengah, Mancini-Fazio yang terlihat lebih kokoh dibandingkan

Sebuah laga derby della Capitale perdana yang buruk bagi Paulo Fonseca. Roma beruntung hanya kebobolan 1 gol di laga ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s