[ANTIK] AS Roma 4, Sassuolo 2: ANalisa TakTIK ala ASROMAINDO (Stamina Pemain Terkuras di Sepertiga Akhir Laga!)

as-roma-edin-dzeko-justin-kluivert-henrikh-mkhitaryan

Lini serang AS Roma tidak terbendung semalam, mencetak 4 gol dalam selang waktu 33 menit dalam sebuah laga terbuka.

Baca Analisa Pra-Laga (LIBAS) di sini

Hasil seri 1-1 pada laga derby della capitale melawan Lazio tepat menjelang jeda laga internasional selama 2 minggu adalah anti-klimaks bagi tim Paulo Fonseca. Namun pada laga semalam, tim Serigala nampaknya berhasil memetik pelajaran berharga dan mengamuk dengan menghempaskan Sassuolo 4-0 pada akhir babak pertama.

Jika pembaca ASROMAINDO kebetulan melewatkan laga ini (sayang sekali!), berikut ini adalah highlight pertandingan AS Roma vs Sassuolo 4-2

Fonseca menghadapi laga ini dengan badai cedera yang menghantam beberapa pemain kuncinya: Diego Perotti, Cengiz Under, & Chris Smalling. Namun cederanya para pemain andalan tersebut, membawa berkah dengan berkilaunya penampilan sosok penggantinya: Henrikh Mkhitaryan, Patrick Kluivert, & Gianluca Mancini.

Pada dua giornata awal Serie A Lega Calcio 2019/2020, lini pertahanan AS Roma begitu rapuh dengan kebobolan 4 gol, serta dibombardir para pemain Lazio yang jika bukan karena Dewi Fortuna, maka AS Roma mungkin akan mengakhiri laga dengan skor 5-1 atau 4-1 untuk kemenangan Lazio.

Pertahanan rapuh tersebut semakin terancam dengan betapa gemilangnya penampilan Domenico Berardi yang sedang on-fire dan baru saja mencetak hattrick pada laga terakhir Sassuolo melawan Sampdoria yang berakhir 4-2 bagi kemenangan Sassuolo.

Sebelum memasuki analisa taktik dan permainan Il Lupi, mari kita simak gol-gol AS Roma yang terjadi pada 33 menit pertama laga berjalan:

AS Roma 1-0 Sassuolo

AS Roma 2-0 Sassuolo

AS Roma 3-0 Sassuolo

AS Roma 4-0 Sassuolo

SEKTOR PENYERANGAN (Edin Dzeko-Lorenzo Pellegrini-Justin Kluivert-Henrikh Mkhitaryan)

as-roma-edin-dzeko-justin-kluivert-henrikh-mkhitaryan

Edin Dzeko bermain apik pada laga ini, dia tidak hanya menjadi seorang target man, namun Dzeko seakan bertransformasi menjadi seorang striker serba bisa dengan banyak membantu set-up permainan dan menjemput bola hingga ke lini tengah. Dzeko tidak lagi menjadi seorang zombie berjalan yang malas berlari, dan hanya menunggu di kotak penalti seperti yang dia tunjukkan pada era Eusebio Di Francesco.

Sementara itu, setelah bermain buruk dan kurang konsentrasi pada laga melawan Lazio, Justin Kluivert benar-benar mengejutkan pada laga ini: dia tidak kenal lelah melakukan high-pressing pada lawan, bahkan hingga kotak penalti Sassuolo. Dia bahkan membantu pula mengganggu pemain lawan yang sedang menahan bola hingga ke daerah pertahanan AS Roma.

Selain itu, tusukan Kluivert sangat berbahaya dan cepat: terbukti dengan kecepatan lari sang pemain asal Belanda, pada menit ke-2 AS Roma hampir saja mendapatkan hadiah penalti (yang dianulir oleh VAR). Selain itu, gol perdana yang dia cetak musim ini berawal dari lari overlapping-nya dari wilayah lapangan AS Roma.

Lorenzo Pellegrini yang pada laga ini ditempatkan sebagai trequartista (playmaker yang berada tepat di belakang striker) – setelah pada 2 laga sebelumnya ditugaskan sebagai mediano yang berduet dengan Bryan Cristante – bermain dengan sangat taktis dan cerdas. Pellegrini bahkan mencetak hattrick assist setelah mengarsiteki gol Cristante, Mkhitaryan, & Kluivert sekaligus. Passingnya sangat cerdas, akurat, dan dengan pergerakan yang sangat mobile: dia bahkan sering terlihat menyisir sisi lapangan.

Dan… Henrikh Mkhitaryan menunjukkan kelas dan level bermainnya yang mengagumkan. Walaupun pada beberapa kesempatan, Mkhitaryan masih terlihat agak bingung dengan skema permainan Fonseca – mengingat dia baru berlatih dengan tim selama beberapa hari karena disela oleh jeda internasional – namun segala atribut Miki menunjukkan kelasnya: sentuhan, kemampuan membaca pergerakan bek lawan, pilihan umpannya…

Dan terutama tendangan shootingnya yang benar-benar lugas dan berkelas ketika mencetak gol ke-3 untuk Giallorossi pada laga ini. Luar biasa, Miki!

SEKTOR GELANDANG (JORDAN VERETOUT-BRYAN CRISTANTE)

jordan-veretout-as-roma

Ini adalah laga debut bagi Jordan Veretout yang berhasil dia tuntaskan dengan permainan berenergi tinggi. Veretout terlihat bermain dengan ngotot dan  bertenaga kuda: sesuatu karakteristik yang hilang sejak Radja Nainggolan & Kevin Strootman hengkang dari Trigoria pada awal musim lalu.

Veretout seakan adalah kepingan puzzle sempurna yang melengkapi sektor gelandang AS Roma. Tipe bermainnya yang penuh stamina, penuh energi, serta kengototannya dalam melakukan pressing berhasil menghancurkan aliran bola Sassuolo di lini tengah. Bahkan, gol ke-4 yang dicetak oleh Justin Kluivert berawal dari keberhasilannya merebut bola, lalu langsung menyodorkannya ke Pellegrini yang berdiri bebas.

Sementara itu, Bryan Cristante sepertinya menemukan partner yang ideal bersama Veretout. Cristante bermain dengan apik apabila memiliki rekan dengan mobilitas tinggi dan energik seperti Veretout. Ingat, Cristante selalu bermain buruk apabila dia tandem dengan pemain yang kurang mobile seperti Steven Nzonzi musim lalu.

Mereka berdua adalah tandem gelandang yang saling melengkapi, namun dengan karakter Jordan Veretout yang begitu energik dan mobile, pemain asal Perancis hampir dipastikan menjadi starting eleven di bawah asuhan Paulo Fonseca.

Sementara itu, ASROMAINDO berpendapat bahwa Cristante kemungkinan besar akan sering melakukan rotasi dengan Amadou Diawara mengingat sulit digantikannya peran dan karakter Veretout di stok gelandang Giallorossi saat ini.

SEKTOR PERTAHANAN (GIANLUCA MANCINI-FEDERICO FAZIO-ALESSANDRO FLORENZI-ALEKSANDAR KOLAROV)

AS Roma vs Sassuolo, Rome, Italy - 15 Sep 2019

Sektor pertahanan AS Roma terlihat membaik pada laga ini, kita bisa melihat beberapa kali key clearance (baik dengan blocking, tendangan sapuan, maupun heading), serta intersepsi yang vital dilakukan oleh duet Mancini-Fazio di jantung pertahanan.

Fazio yang berperan sebagai ball-playing-defender tidak kehilangan kemampuan headingnya, bahkan dia sering unggul dalam duel udara. Di aspek set-up play, Fazio bahkan pada suatu momen terlihat menggiring bola hingga ke sisi kiri sepertiga lapangan lawan, sebelum menyodorkan bola pada Kolarov.

Sayangnya masih ada kekurangan pada lini pertahanan Roma, setidaknya ada 2 peluang emas yang berhasil dikonversi menjadi gol, diakibatkan kurangnya konsentrasi bek-bek Giallorossi dalam menutup tendangan lawan.

Pertama adalah ketika gol offside Caputo dianulir oleh wasit. Apabila kita telisik, andaikata saat itu Berardi (yang tepat berada di belakang Caputo) yang menendang bola, maka bisa dipastikan gol menjadi sah karena posisi Berardi onside ketika bola ditendang Defrel. Tapi untungnya, bola keburu disambar Caputo yang berposisi offside. Peluang ini muncul karena lambatnya Florenzi melakukan blocking pada shooting yang dilakukan Defrel.

Kedua, adalah gol open-play yang dicetak Berardi ketika skor 4-2: diakibatkan oleh lengahnya Kolarov dalam melakukan man-marking pada Berardi yang membuatnya leluasa melakukan shooting dengan baik.

Sementara itu, bek sayap Florenzi dan Kolarov bermain dengan baik ketika memegang bola. Kolarov bahkan mencetak assist setelah mengarsiteki gol Dzeko dengan umpan crossingnya.

Namun sayangnya, kemampuan defense dan positioning kedua bek sayap agak buruk dalam bertahan. Leonardo Spinazzola & Davide Zappacosta sebenarnya lebih memiliki kemampuan menyerang dan bertahan yang relatif lebih seimbang dibandingkan duet Florenzi-Kolarov.

Menurut ASROMAINDO, kunci pada permainan menyerang terbuka yang dirancang oleh Fonseca adalah kemampuan bertahan dan menutup ruang gerak lawan dari quartet bek+gelandang jangkar.

Namun selama AS Roma mampu mencetak gol lebih banyak daripada lawan, maka Giallorossi akan bisa memenangi laga!

Adapun hal negatif yang kita soroti dari laga ini adalah, sepertinya cara bermain dengan cara high-pressing yang compact telah menghabiskan banyak energi dan stamina pemain, karena setelah laga melewati menit ke-60, pasukan Paulo Fonseca seakan kehabisan bensin sehingga membiarkan Sassuolo untuk leluasa memainkan bola.

Alhasil pada akhir laga, ball possession AS Roma kalah dibandingkan penguasaan bola Sassuolo dengan persentase 47% berbanding 53% karena dibiarkannya pemain Sassuolo mengatur jalannya pertandingan pada sepertiga akhir laga.

Last but not least, sepertinya Paulo Fonseca memiliki fans baru yaitu pelatih tim nasional Italia, Roberto Mancini yang untuk kesekian kalinya terlihat menonton laga di dalam stadion. Apakah Mancini sedang memantau para pemain Italia yang sedang berlaga, atau dia tengah mencari inspirasi taktik dari cara bermain Paulo Fonseca (alias ngefans)?

Statistik Laga AS Roma vs Sassuolo

as-roma-vs-sassuolo-2019

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s